Bagi masyarakat Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI, 1 Desember bermakna khusus. Hari itu diperingati sebagai HUT Papua Merdeka. Bintang Kejora pun sempat dikibarkan selama 5 menit.
"Di Timika pukul 05.30 WIT, sekelompok masyarakat berhasil menaikkan bendera Bintang Kejora selama 5 menit sebelum diturunkan Polri," ujar Kapolda Papua Irjen Pol Max Donald Aer kepada detikcom, Sabtu (1/12/2007).
Para pelaku pengibaran bendera tersebut, lanjut Donald, kini masih diperiksa kepolisian Papua.
Donald mengaku tidak melakukan gelar kekuatan khusus pada 1 Desember ini. Namun pengawasan khusus dilakukan terhadap tempat-tempat tertentu yang diperkirakan akan digunakan sebagai tempat pengibaran bendera Bintang Kejora. Tempat-tempat tersebut antara lain Lapas Abepura yang sudah 2 kali digunakan sebagai tempat pengibaran bendera bintang Kejora oleh napi.
"Kemarin juga dilakukan sweeping dan ditemukan 2 lembar bendera Bintang Kejora, 1 papan tripleks bergambar bendera Bintang Kejora, 1 bendera Israel, beberapa senjata Israel, dan beberapa senjata tajam," tandasnya. (nvt/nvt)
Sumber : Detikcom
Sabtu, 01 Desember 2007
Bintang Kejora Berkibar 5 Menit di Timika Papua
Diposting oleh Syamsul Alam Agus di 15.50 0 komentar
Label: PAPUA NEWS
Jumat, 16 November 2007
Mahasiswa Papua Desak Freeport Hengkang
Puluhan mahasiswa asal Papua di Bali menggelar aksi unjuk rasa anti PT Freeport, Rabu (7/11/2007). Mereka mendesak perusahaan tambang emas raksasa itu hengkang dari bumi cendrawasih.
Aksi demonstrasi tersebut diawali dengan long march dari Kampus Universitas Udayana menuju Gedung DPRD Bali di Jalan Kusumaatmadja, Denpasar. Sejumlah poster yang mereka usung antara lain bertuliskan "Tutup Freeport", "Hentikan Provokasi kepada Warga Papua", dan "Tolak Intervensi TNI dan Polri".
Dalam orasi, massa mengaku aksi unjuk rasa ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kondisi di Papua saat ini. Mereka menilai, warga Papua makin terpinggirkan oleh kehadiran PT Freepot. Sedangkan Freeport telah banyak menarik keuntungan.
Bukan hanya itu, perusahaan asal Amerika Serikat itu juga dinilai telah mengakibatkan kerusakan lingkungan sangat parah di Papua. "Karena itu, lebih baik Freeport ditutup," seru Koordinator Aksi Joko Denis.
Pengunjukrasa juga meminta Presiden SBY bertanggung jawab karena telah merugikan masyarakat Indonesia dan internasional. "Kami juga berharap konflik horisontal di Papua segera dihentikan," imbuh Denis.
Kehadiran para pengunjuk rasa akhirnya diterima oleh sejumlah anggota DPRD Bali. Dalam pernyatannya, Ketua Komisi A DPRD Bali Made Arjaya menyatakan, aspirasi itu akan diteruskan ke pemerintah pusat karena kewenangan untuk menanggapi persoalan itu ada di Jakarta.
Sumber : okezon
Diposting oleh Syamsul Alam Agus di 17.14 0 komentar
Label: PAPUA NEWS
